Ini Kata Praktisi Hukum tentang Geger Puisi Sukmawati

Ini Kata Praktisi Hukum tentang Geger Puisi Sukmawati

Jateng Today

9 April 2018

SEMARANG – Geger kasus puisi berjudul Ibu Indonesia karya Sukmawati Soekarnoputri menyita perhatian banyak pihak.
Praktisi hukum sekaligus Ketua DPC Peradi Kota Semarang, Yosep Parera mengatakan jika masyarakat tidak seharusnya menanggapi puisi itu secara berlebihan.

“Saya pribadi menyesalkan kondisi tersebut. Menurut saya, hal itu akan membawa perpecahan dan membuat bangsa ini semakin terpuruk,” kata dia, Minggu (8/4).

Menurut teori lanjut Yosep, geger kasus Puisi Sukmawati tersebut membuktikan jika masyarakat Indonesia masih tradisional. Menurut teori itu lanjut dia, masyarakat tradisional dipenuhi konflik dan intrik untuk selalu gampang tersinggung oleh hal yang bersifat agama dan budaya.
“Memang kondisi itu tidak bisa disalahkan, masyarakat kita masih tergolong tradisional kalau melihat teori itu,” terangnya.

adahal lanjut dia, jika ciri itu masih berjalan, maka masyarakat Indonesia akan terus berkonflik dan Indonesia tidak akan maju-maju.
“Tidak ada yang bisa disalahkan, hanya saja kondisi seperti ini jika berlangsung terus menerus akan merugikan bangsa ini,” tegasnya.

Disinggung terkait dibawanya kasus itu ke ranah hukum, Yosep mengatakan jika hukum memang tidak bisa ditegakkan dengan sebaik-baiknya. Hukum, lanjut dia, akan mudah sekali diintervensi oleh kekuasaan dan kekuatan masyarakat tradisional itu.
“Hukum nantinya hanya akan digunakan untuk mendukung kepentingan kelompok tertentu karena adanya intervensi. Soal kasus Puisi Sukmawati itu, intervensi sudah sangat terlihat seperti demo-demo yang sedang marak saat ini,” tegasnya.

Jika kasus ini dibawa ke ranah hukum lanjut Yosep, maka kekuatan hukum untuk menunjukkan keadilan akan tumpul.
“Pengadilan nantinya tidak akan independen lagi karena intervensi itu. Contoh yang masih hangat adalah kasus Ahok,” terang dia.

Yosep meminta masyarakat lebih dewasa dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada. Tidak semua permasalahan lanjut dia harus diselesaikan ke ranah hukum.
“Kapan negara akan maju jika permasalahan semacam ini digegerkan. Masih banyak pekerjaan rumah negeri ini yang lebih penting dan membutuhkan bantuan masyarakat,” pungkasnya.

Seperti diketahui, puisi Sukmawati berjudul Ibu Indonesia menjadi polemik. Puisi itu dinilai telah menodai Agama Islam.
Sejumlah pihak melaporkan Putri Presiden pertama Republik Indonesia itu ke polisi. Selain itu, sejumlah aksi demonstrasi juga dilakukan terkait kasus itu dan meminta kasus diproses secara hukum. (andika prabowo)

editor : ismu puruhito

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat