Peradi Advokasi Pedagang Pasar Kayen Pati

Peradi Advokasi Pedagang Pasar Kayen Pati

Peradi Advokasi Pedagang Pasar Kayen Pati

Sumber Suara Merdeka

11 Juni 2017 17:12 WIB

SEMARANG, suaramerdeka.com – DPC Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang mengadvokasi Sukirah, pedagang toko kelontong di Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati yang dirugikan salah satu bank pemerintah. Ibu tiga anak itu harus menanggung hutang almarhum suaminya, Karsono yang meninggal sejak 29 Agustus 2008 lalu. Alih-alih melunaskan hutang suaminya, empat sertifikat tanah yang dijaminkan itu masih ditahan pihak bank pelat merah tersebut.

Lewat klinik hukum organisasi advokat yang disiarkan televisi lokal Semarang itu akhirnya Sukirah mengadukan persoalan ke Peradi Semarang yang diketuai Theodorus Yosep Parera. Setelah hanya berkonsultasi lewat telepon seluler, tim Tim Peradi akhirnya turun ke Pati untuk meminta keteragan pedagang kecil tersebut.

Ketua DPC Peradi Semarang Yosep Parera menegaskan, kehadirannya ke Pati itu untuk membantu masyarakat, khususnya pedagang kecil yang berjuang mepertahankan usaha dan menghidupi keluarganya.

“Kami sudah mempelajari masalahnya, itu merupakan hutang. Angsuran yang disetorkan itu juga ada bagian dari asuransi, sehingga apabila orang yang berhutang sudah meninggal, seharusnya bisa dianggap lunas,” jelasnya didampingi anggota Peradi, Taufiqqurahman dan Andreas Hijrah Airudin di Semarang, Minggu (11/6).

Tim Peradi, baru-baru ini telah mengunjungi Pasar Kayen untuk menemui Sukirah guna meminta keterangan terkait masalah yang dihadapi. Pihaknya berharap adanya itikad baik dari bank tersebut untuk melunaskan hutang pedagang, sekaligus mengembalikan sertiikat Sukirah.

Peradi juga akan mengajukan somasi atas masalah tersebut. Jika tetap tidak ada itikad baik, ia akan melakukan upaya hukum melalui Pengadilan Negeri Pati. Di sisi lain, Sukirah menjelaskan, almarhum suaminya sempat melakukan pinjaman ke bank pemerintah pada Unit Kayen sekitar tahun 2002.

Pinjaman itu agunannya empat sertifikat tanah. Pada 2006, pinjamannya sempat berpindah ke cabang di Pati.

“Setoran terakhir seharusnya diberikan pada Agustus 2008, saat suami saya meninggal. Kenyataannya, angsuran tetap berjalan sampai sekarang,” tandasnya. Karena angsuran belum dianggap lunas setelah meninggalnya suaminya, empat sertifikat yang dijaminkannya kini belum bisa kembali.
(Royce Wijaya/CN41/SMNetwork)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat