Warga Bulu Lor Semarang 4 Tahun Tuntut Ganti Rugi Lahan Terdampak Proyek Rel Ganda

Warga Bulu Lor Semarang 4 Tahun Tuntut Ganti Rugi Lahan Terdampak Proyek Rel Ganda

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Tampaknya warga RW 2 Kelurahan Bulu Lor, Semarang Utara, Kota Semarang, harus bersabar lagi untuk mendapatkan ganti rugi karena lahan mereka terkena proyek pembangunan jalur rel ganda kereta api lintas Semarang-Bojonegoro dan Semarang-Pekalongan.

Padahal, warga sudah berupaya menuntut hak ganti rugi tersebut ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang sejak empat tahun lalu. Hingga rel ganda sudah beroperasi, usaha mereka belum membuahkan hasil. 

“Sudah 4 tahun kami menunggu ganti rugi lahan kami yang terkena rel ganda. Tapi sampai sekarang belum jelas juga,” kata Koordinator warga Bulu Lor, Tri Haryono, Kamis (16/11/2017).

Haryono mengungkapkan, terdapat 22 warga yang lahannya terdampak dan belum mendapatkan ganti rugi. Tidak hanya lahannya terdampak, rumah warga juga mengalami kerusahan akibat pembangunan rel. Atas ketidakjelasan itu, warga mengaku sudah lelah menuntut dan berusaha melupakan.

Lebih lanjut Haryono mengatakan, warga pernah mengirim surat ke Gubernur Jawa Tengah terkait masalah ini. Saat itu, katanya, Gubernur sudah memberi tanggapan dengan memerintahkan PT KAI memperbaiki rumah warga.

“Jangankan memperbaiki rumah, sampai saat ini lahan warga saja belum diganti dan tidak ada jawaban dari balai tehnik maupun PT KAI,” tandasnya.

Ia berharap, PT KAI dan BPN segera memberikan kejelasan terkait nasib lahan warga. Ia khawatir ganti akan semakin terkatung-katung mengingat waktunya yang sudah lama. Sehingga, akan ada perbedaan perhitungan dari warga dengan BPN.

Terlebih, sertifikat lahan milik warga sebenarnya sudah diserahkan kepada panitia pembebasan tanah (P2T) saat itu. Sehingga, warga khawatir jika janji ganti rugi hanya omong kosong saja.

“Kami itu cuma minta ganti rugi harus segera dicairkan dan sertifikat lahan juga harus diserahkan. Dulu sempat ada pertemuan tapi sayang agenda terbalik, seolah ada perbaikan. Kalau sosialisasi saja omong kosong rel ganda itu sudah selesai dan berakhir per 31 Mei 2014,” tegasnya. 

BPN Kota Semarang sebenarnya sudah mengumpulkan warga di Kantor Kecamatan Semarang Utara untuk memberikan sosialisasi, Rabu (15/11/2017) kemarin.

Kepala Kantor BPN Semarang, Sriyono mengatakan, pihaknya kembali melakukan sosialisasi karena ada aturan baru terkait ganti rugi pembangunan rel ganda. Meski demikian, ia berjanji akan menyelesaikan masalah ini.

“Kami datang dengan format baru, tim baru dan aturan baru. Kami berjanji akan menindaklanjuti dengan melakukan inventarisasi dan indentifikasi sesuai proses,” katanya. 

Ia menambahkan, pihaknya akan melakukan pendataan sesuai kondisi reel saat ini. Nantinya hasilnya akan di umumkan supaya warga yang memiliki tanah, bangunan, tanaman dan lainnya bisa dicek kembali, sehingga bisa disesuaikan dengan aslinya.

“Jadi supaya bisa direvisi sesuai yang dimiliki pemilik. Nanti baru diserahkan ke tim appraisal independen, jadi bukan dari kami yang menentukan besaran ganti rugi,” jelasnyaml.

Ia meminta warga agar tidak khawatir tidak mendapatkan ganti rugi lahan dan kerusakan rumah. Bahkan, jika ada lahan warga yang tersisa dari pembangunan rel ganda, akan dibantu pembuatan sertifikatnya.

“Kan ada lahan yang tersisa karena tidak terpakai. Itu bisa dibuatkan sertifikat. Nanti kami akan bantu,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat