Nanang Merasa Tertekan Selama Diperiksa Petugas KPPBC, Sidang Lanjutan Praperadilan PN Kudus

Nanang Merasa Tertekan Selama Diperiksa Petugas KPPBC, Sidang Lanjutan Praperadilan PN Kudus

Nanang Merasa Tertekan Selama Diperiksa Petugas KPPBC, Sidang Lanjutan Praperadilan PN Kudus

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Sidang praperadilan penetapan tersangka oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Kudus di Pengadilan Negeri (PN) Kudus, masih berlanjut, kali ini, Kamis (11/4/2019), adalah agenda pembuktian.

Dalam sidang yang dipimpin hakim tunggal Dedy Adi Saputra, didatangkan saksi pihak pemohon gugatan praperadilan, Nur Rohmad.

Dalam sidang kali ini, saksi yang dimintai keterangan pertama di hadapan hakim yaitu Nanang Baharudin Mujarod.

Dalam pengakuannya saat ditanya hakim, dia diperiksa sebagai saksi atas penindakan peredaran rokok ilegal yang menjerat Nur Rohmad (Samiyono), warga Desa Teluk Wetan Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara.

Saat dimintai keterangan sebagai saksi, Nanang mengaku dibawa ke Kantor KPPBC pada 27 Februari 2019 siang.

Kemudian dia dipulangkan pada 28 Februari 2019 sekitar pukul 23.00.

Selama dimintai keterangan sebagai saksi, kata Nanang, sempat dirinya disuruh petugas bea cukai untuk masuk ke dalam kolam yang ada di kompleks kantor.

“Saya disuruh roll (rolling) bolak-balik sampai 10 kali, dibawa ke kolam ikan, disuruh buka celana dan baju oleh petugas bea cukai, cuma pakai celana dalam saja masuk di kolam itu,” kata Nanang di depan hakim.

Dia diminta berendam di dalam kolam selama sekitar 10 menit.

Dia berendam dalam posisi jongkok.

Air merendamnya sampai setinggi leher.

Kejadian itu, katanya, pada 28 Februari 2019 dini hari.

Setelah berendam di dalam kolam, katanya, dia kembali diperiksa.

Kemudian dia disuruh tidur.

“Badan saya masih basah, saya pakai lagi celana dan baju yang masih basah,” katanya.

Dia mengaku tertekan saat diperiksa sebagai saksi oleh KPPBC Tipe Madya Kudus.

Yang ada di benaknya, dia berharap bisa cepat pulang.

“Adik saya sakit, ibu saya sendirian,” kata Nanang.

Di depan hakim, dia mengaku bekerja sebagai pengemas rokok ke dalam bungkus.

Dia mendapat upah dari temannya bernama Puryono alias Biting.

Setelah Nanang, saksi yang dimintai keterangan di muka sidang yaitu Ahmad Sodik.

Dia mengaku dibawa dari rumahnya pada 27 Februai 2019 siang ke Kantor KPPBC Tipe Madya Kudus.

Saat di sana, dia dipaksa untuk mengakui apabila barang tersebut milik Samiyono.

“Saya dimasukkan sel, digembok dari luar. Saya tidak diberi kesempatan berbicara dan dipaksa mengakui barang itu punya Samiyono (alias Nur Rochmad),” katanya.

Setelah dimintai keterangan, esok malamnya dia baru dipulangkan.

Dia mengaku sehari-hari bekerja sebagai pengirim rokok untuk pabrik rokok Felicia milik Siswanto.

Sementara, kuasa hukum pemohon Theodorus Yosep Parera mengatakan, ada hal janggal dalam penandatanganan berita acara pemeriksaan (BAP).

Pasalnya, di dalam BAP tanda tangan tertanggal 27 Februari 2019, padahal saksi baru memberikan keterangan pada 28 Februari 2019 dini hari.

“Jadi, bukti-bukti yang diajukan (salah satunya BAP) itu palsu,” kata Yosep.

Terkait apa yang dialami saksi saat dimintai keterangan oleh KPPBC Kudus, dia hendak melaporkannya ke Polda Jawa Tengah.

Pasalnya, itu bagian dari penganiayaan.

Hal itu bisa menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia.

Salah seorang petugas bea cukai yang datang ke persidangan mengatakan, pihaknya akan menghadirkan saksi penyidik lima orang.

“Saksi ahli kemungkinan kami tidak hadirkan. Tapi saksi dari penyidik kemungkinan lima orang,” kata petugas bea cukai yang datang.

Seusai sidang, petugas dari bea cukai yang datang enggan memberikan komentar.

“Silakan ke kantor saja. Saya harus absen. Kalau telat bisa dimarahi Bu Sri Mulyani (Menteri Keuangan, red),” kata salah satu di antara mereka.

Sidang akan kembali dilanjutkan Jumat (12/4/2019).

Nantinya akan dimintai keterangan satu  saksi dan satu saksi ahli dari pihak pemohon maupun yang diajukan termohon.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat