Rumah Pancasila Desak Polsek Mijen Lepaskan Pelaku Perampokan

Rumah Pancasila Desak Polsek Mijen Lepaskan Pelaku Perampokan

Rumah Pancasila Desak Polsek Mijen Lepaskan Pelaku Perampokan

RMOLJateng. Kuasa Hukum Yosep Parera dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum mendesak Polsek Mijen untuk membebaskan tersangka W (33) warga Meteseh, Boja, Kabupaten, tersangka yang ditahan atas kasus perampokan, perampasan dan penganiayaan lantaran antar tersangka dan pelapor sudah menulis perjanjian damai dan pencabutan laporan.

“Klien saya sudah ditahan selama kurang lebih 60 hari. Padahal sudah ada kesepakatan tertulis antar keduanya termasuk kesepakatan pencabutan laporan dan barang-barang yang dijaminkan sudah dikembalikan,” ungkap Yosep Parera saat berada di Mapolsek Mijen, Rabu (17/7/2019).

Yosep Parera yang juga pendiri rumah Pancasila dan Klinik Hukum ini akan melakukan langkah hukum atas peristiwa yang menimpa kliennya di antaranya akan mengirimkan surat resmi kepada Kapolda Jateng  untuk menggelar kasus bersama Polsek Mijen dan akan mengirimkan surat kepada Kajari Semarang tembusannya kepada Kejati Jateng untuk menunda sementara kasus ini sampai ditemukan celah hukum atau tidak.

“Untuk itu Saya dan rumah Pancasila akan mendampingi sampai kasus ini selesai. Karena saya mendengar ada ancaman-ancaman pada klien kami untuk tidak menggunakan pengacara,” ujarnya.

Sementara itu Panit idik reskrim Polsek Mijen Polrestabes Semarang Iptu Bardo mengungkapkan bahwa ihwal peristiwa bermula saat tersangka W mengetahui isi pesan pendek dari ponsel istrinya M dan mencium perselingkuhan dengan pelapor bernama AW (28) warga Mintojiwo, Semarang Barat. 

Saat itu antara tersangka dan pelaku bertemu pada Senin (15/4) di taman Mijen, yang lokasinya tak jauh dari kecamatan Mijen.

“Dipertemuan tersebut setelah sempat cek cok pelapor mendapat penganiayaan serta sempat disuruh berjalan hanya menggunakan celana dalam. Tidak itu saja tersangka juga meminta dompet berisi uang, HP dan sepeda motor,” ungkap Iptu Bardo saat memberikan paparan kepada sejumlah wartawan.

Iptu Bardo menyebut alasan tersangka menyita dompet, HP dan sepeda motor sebagai jamninan ganti rugi karena telah melakukan perselingkuhan dan merusak rumah tangga W. Namun oleh AW kasus tersebut dilaporkan pada Rabu (16/4/2019).

Disinggung tentang penahanan selama 60 hari dan sudah adanya pencabutan laporan, Iptu Bardo berdalih karena saat itu kejaksaan sempat libur dalam rangka cuti dan menunggu hasil labfor terkait isi pesan singkat. 

Sedangkan surat pencabutan laporan diterima setelah adanya penangkapan dan penahanan pada 3/5/2019.

“Ini kasusnya masih tahap 1 belum P21, masih dalam proses. Kita jerat dengan pasal 365 KUHP subsider pasal 368 KUHP dan atau pasal  351 KUHP,” katanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat