Kasus Pembunuhan Berencana, Dua Saksi akan Dihadirkan Saat Sidang PK

Kasus Pembunuhan Berencana, Dua Saksi akan Dihadirkan Saat Sidang PK

Kasus Pembunuhan Berencana, Dua Saksi akan Dihadirkan Saat Sidang PK

SEMARANG, suaramerdeka.com – Terpidana kasus pembunuhan yang divonis seumur hidup, Ahmad Sapuan memilih akan mengajukan upaya hukum lanjutan berupa Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA).

Dia melalui tim kuasa hukumnya dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, sebelumnya juga sempat menyatakan akan mengajukan grasi kepada presiden.

Kuasa hukum yang mendampingi terpidana, Ceicilia Novita Prameswari mengemukakan, baru-baru ini pihaknya menemukan dua saksi yang diyakini mengetahui persis keberadaan Sapuan pada saat peristiwa pembunuhan terjadi.

Dua saksi itu menurut dia tidak sempat dihadirkan ketika proses persidangan pada pengadilan tingkat pertama. Mereka nantinya akan membeberkan keterangan ketika sidang PK nanti.

“Pada hari kejadian, sore harinya Sapuan sudah berada bersama saksi satu di Jepara. Kemudian ketika malam hari dijemput saksi lain untuk tidur di rumahnya. Ayah dari saksi juga mengetahui bahwa Sapuan berada di rumahnya hingga pagi hari,” kata Novita seusai audiensi dengan Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Jateng, Marasidin Siregar di kantor tersebut, Jalan Dr Cipto Semarang, Kamis (18/7).

Kuasa hukum lain, Amal Lutfiansyah menyatakan, berdasarkan temuannya itu dia menyimpulkan, terpidana Ahmad Sapuan tidak berada di lokasi kejadian saat peristiwa terjadi. Sedangkan tindak pidana pembunuhan itu berlangsung pada malam hari di Kabupaten Pati.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, Yosep Parera memastikan upaya PK akan diajukan dua pekan mendatang.

Pada perkara ini, dia melihat ada kekhilafan majelis hakim karena memvonis berdasarkan keterangan dari terpidana lain dalam kasus yang sama (Supriyadi) dan berita acara pemeriksaan (BAP) dari terpidana Ahmad Sapuan.

“Hari ini kami ingin menemui Supriyadi yang saat ini menjalani masa hukuman di Lapas Nusakambangan. Kami ingin dia bersedia memberikan keterangan sesuai dengan fakta. Tujuannya membuktikan saudara Ahmad Sapuan sama sekali tidak telibat,” jelasnya.

Diketahui, Ahmad Sapuan (30) warga Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas kasus pembunuhan berencana terhadap M Rizal (18) juga warga Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati.

Hingga empat tahun menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan, dia masih kukuh tidak merasa terlibat dalam peristiwa pembunuhan 26 Agustus 2014 silam di Kecamatan Puncakwangi, Kabupaten Pati.

“Sejak mulai menjalani BAP sampai proses berikutnya, saya tidak pernah menandatangani hasilnya. Sampai sekarang pun saya merasa tidak terlibat dalam peristiwa itu,” kata Sapuan di Lapas Kelas I Semarang (Kedungpane).

Pada April 2015 Sapuan dinyatakan bersalah dan dihukum penjara seumur hidup oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pati. Hukuman itu lebih berat dari tuntutan jaksa, yakni 20 tahun penjara.

Sebelumnya, kasus ini berawal dari penemuan mayat di area persawahan di Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi pada 27 Agustus 2014. Jasad pria tanpa identitas itu ditemukan oleh warga setempat dalam kondisi seperti bekas terbakar dan terdapat sejumlah luka tusukan. Selang beberapa hari, jenazah itu diketahui bernama M Rizal, warga Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati.

Petugas kepolisian kemudian menangkap tiga pelaku yang dianggap terlibat, yakni Supriyadi (23) warga Desa Sumberejo Pati, Ngasiban alias Abdul Azis warga Kecamatan Puncakwangi Pati dan Ahmad Sapuan.

Sementara itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jateng, Marasidin Siregar mempersilahkan kepada semua masyarakat jika ingin berupaya mencari keadilan sesuai dengan undang-undang. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat