Anggaran Konsumsi Napi Dinilai Tak Layak

Anggaran Konsumsi Napi Dinilai Tak Layak

Anggaran Konsumsi Napi Dinilai Tak Layak

SEMARANG, suaramerdeka.com – Anggaran konsumsi bagi narapidana/warga binaan di lembaga pemasyarakatan (Lapas), terutama di wilayah Jateng dinilai tak layak. Tahun ini, besaran biaya konsumsi per hari mereka rata-rata hanya Rp 20 ribu.

Ketua Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, Eka Setiawan menilai, besaran biaya tersebut terbilang minim untuk tiga kali makan. Padahal merujuk undang-undang (UU) Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, warga binaan seharusnya diperlakukan secara manusiawi. “Temuan itu terungkap setelah kami melakukan tinjauan langsung di sejumlah Lapas dan rumah tahanan (Rutan) di Jateng,” kata Eka, Senin (29/7).

Kondisi tersebut dianggap suatu ironi, mengingat keberadaan Lapas sebetulnya untuk memperbaiki perilaku warga binaan agar menjadi lebih baik.  “Lapas wajib merawat mereka. Kondisi ini tentu sangat tidak manusiawi. Di sisi lain, kalau anggaran naik menjadi tanggungan negara,” ujarnya.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, Yosep Parera menambahkan, mereka para warga binaan ada baiknya terus dibina, sehingga turut serta berpartisipasi dalam membangun bangsa. “Harus ada jalan keluar agar negara juga tidak boros mengatasi persoalan ini. Namun idealnya minimal mereka menerima biaya makan Rp 45 ribu per hari,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Jateng, Marasidin Siregar membenarkan minimnya anggaraan makan bagi narapidana.

Dia menyebut, biaya makan warga binaan lebih kecil dibanding dengan tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) maupun kepolisian. “Biaya makan tahanan KPK Rp 75 ribu, BNPT Rp 45 ribu, kepolisian Rp 25-30 ribu. Sedangkan napi di wilayah Jateng, masih Rp 19 ribu- Rp 22 ribu. Kami memang ada wacana untuk meningkatkan anggaran,” sebutnya.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, jumlah narapidana di Jateng per 28 Juli 2019 mencapai 10.632. Sedangkan jumlah tahanan 3.038, sehingga total ada 13.670. Mereka tersebar di 44 rumah tahanan dan Lapas di Jateng. Adapun kapasitas keseluruhan hanya 8.197 orang, artinya terjadi kelebihan hunian mencapai 167 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat