Bertahun-Tahun Tak Terawat, Monumen Ketenangan Jiwa Mulai Disentuh

Bertahun-Tahun Tak Terawat, Monumen Ketenangan Jiwa Mulai Disentuh

Bertahun-Tahun Tak Terawat, Monumen Ketenangan Jiwa Mulai Disentuh

SEMARANG – Setelah bertahun-tahun tak terawat, kini Monumen Ketenangan Jiwa atau Chinkon no Hi di muara sungai Banjir Kanal Barat, kawasan Pantai Baruna, Semarang Utara, mulai disentuh. Monumen yang berhubungan dengan peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang itu mulai mendapat perhatian dari Pemkot Semarang. Bahkan Pemkot Semarang berencana akan menjadikan situs tersebut menjadi destinasi wisata. Namun pengembangan tersebut saat ini masih terkendala masalah kepemilikan tanah. 

Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Samsul Bahri, mengatakan pemerintah kota akan mengembangkan monumen tersebut sebagai destinasi pariwisata di Kota Semarang. Monumen tersebut diresmikan pada tahun 1998 oleh Wali Kota Semarang saat itu. Setelah itu nyaris vakum atau tidak mendapat perhatian lebih hingga akhirnya Rumah Pancasila dan Klinik Hukum datang memberi tahu mengenai situs tersebut.

“Sudah ada rapat bersama dan akan dikembangkan sebagai destinasi pariwisata. Wali kota selalu mendukung membuat suatu industri pariwisata,” katanya usai kerja bakti bersama di lokasi, Jumat (2/8/2019).

Meski ada dukungan dari pemerintah kota, pengembangan dan pembangunan kawasan Monumen Ketenangan Jiwa tersebut masih memiliki kendala. Kendala itu terkait status kepemilikan tanah tempat monumen itu berdiri. Informasi terakhir tanah di lokasi tersebut dimiliki oleh pihak swasta meski belum jelas siapa.

“Persoalan yang muncul sekarang ini kami belum tahu status tanahnya milik siapa. Kalau ini tanah pemerintah atau bengkok maka akan langsung dikembangkan. Tapi ini belum tahu. Semoga dengan adanya kegiatan ini pemiliknya bisa muncul, nanti akan kami ajak rembugan soal pengembangan menjadi destinasi wisata,” terangnya.

Salah satu hal yang akan dilakukan dalam pengembangan adalah pembangunan akses jalan ke lokasi. Saat ini akses ke lokasi cukup sulit lantaran harus melewati jalan tanah dan berbatu. “Jika ini milik swasta akan kami minta untuk bersama mengembangkan seperti membuat akses jalan. Intinya akan tetap kami kembangkan, nanti tinggal dikomunikasikan,” paparnya.

Selain sebagai destinasi wisata, pengembangan tersebut juga akan berkaitan dengan hari peringatan Pertemuan Lima Hari di Semarang yang digelar setiap tahun. Saat ini peringatan peristiwa tersebut hanya dilakukan di kawasan Tugu Muda Semarang.

“Nanti kami juga akan tarik menjadi bagian dari peringatan peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang. Tempat ini juga menjadi bagian yang ada hubungannya dengan peristiwa itu,” tandasnya.

Sementara itu, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang, Theodorus Yosep Parera, mengungkapkan pengembangan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Masyarakat juga harus ikut serta karena ini merupakan salah satu aset yang menjadi penanda sejarah. Monumen itu dibangun sebagai penghormatan kepada ratusan serdadu dan sipil Jepang yang meninggal karena dihadang di dekat kawasan Lapas Bulu. Jasadnya dibuang ke sungai Banjir Kanal Barat.

“Harus dikelola dengan baik, bisa jadi destinasi wisata, khususnya bagi orang Jepang. Tiap tahun saja ada rombongan dari Jepang yang datang ke sini. Kita sebagai warga Semarang juga punya kewajiban untuk merawat,” katanya.

Sumber : MetroJateng.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *