Kreativitas Warga Binaan Lapas Kelas 2A, Hasilkan Jangkrik dan Peti Mati

Kreativitas Warga Binaan Lapas Kelas 2A, Hasilkan Jangkrik dan Peti Mati

Kreativitas Warga Binaan Lapas Kelas 2A, Hasilkan Jangkrik dan Peti Mati

RADARSEMARANG.ID, MAGELANG  – Lembaga Pemasyarakatan identik dengan dunia kejahatan dan lebih banyak pada pembinaan hukuman kepada para warga binaan atau narapidana. Namun, di Lapas Kelas 2A Magelang, pembinaan diberikan pula keterampilan yang bernilai ekonomis, seperti beternak jangkrik dan produksi peti mati.

Kepala Sub Seksi Bimbingan kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas IIA Magelang, Ainur Rofiq, Sabtu (3/8/2019) mengatakan, bahwa fungsi pembinaan oleh pelaksana teknis pemasyarakatan harus dijalankan dengan baik. Tujuannya, menurut Rofiq, yakni menyiapkan warga binaan agar nantinya siap saat kembali ke tengah masyarakat saat mendapat kebebasan.

Rofiq menjelaskan, pembinaan bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya pemberian keterampilan yang bernilai ekonomis. Untuk pembinaan keterampilan di Lapas Kelas 2A Magelang, menurut Rofiq, antara lain membuat sampo mobil, cukur rambut, pertukangan, pertanian, menjahit, budidaya jangkrik sampai membuat peti mati.

“Soal budidaya jangkrik ini sudah dilakukan sejak 5 bulan lalu. Tercatat sudah 2 kali panen. Teknisnya, pihak Lapas membeli telur jangkrik, kemudian ditetaskan dan diternak di kotak-kotak yang sudah disiapkan hingga siap jual. Jadi dulunya telur sekarang sudah menetas,” katanya.

Rofiq menyebutkan, ide awal ternak jangkrik ini karena adanya fenomena para peternak burung kesusahan mencari jangkrik untuk pakan. Fenomena ini, menurut Rofiq, seperti sebuah peluang yang baik dan bisa dikembangkan. Akhirnya, dirinya pun mencari informasi budi daya maupun di mana membeli telur-telur jangkrik, baik via internet maupun orang lain.

Rofiq mengungkapkan, hasil penelusuran didapat informasi bahwa telur-telur jangkrik berasal dari Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Pihak lapas, menurut Ainur, akhirnya membeli telur-telur itu untuk ditetaskan dan diternak sampai bisa panen oleh warga binaannya.

Rofiq menceritakan, panen pertama dari 1 kilogram telur bisa panen 19,5 kilogram jangkrik. Harganya saat itu, menurut Rofiq, dihargai Rp23.500 per kilogram dari bakul, namun jika langsung ke peternak lebih tinggi yakni Rp35.000 per kilogram. Sedang pada panen kedua, harganya lebih bagus. Yakni hingga Rp 65. 0000 hingga Rp 70.000 per kilogram dan langsung dijual ke peternak, dan yang ke bakul Rp 45.000 per kilogram.

Rofiq mengaku bahwa pada panen fase kedua, hasilnya lebih sedikit meski harganya lebih tinggi. Sebab, menurutnya, dari 1 kg telur hanya menjadi 6,5 kg jangkrik. Turunnya produksi, kata Rofiq karena kotak tempat menetaskan telur diserang semut, dan menyebabkan telur-telur jangkrik dimakan semut. Pihaknya pun kemudian mencari solusi dengan memberi oli di kaki-kaki kotak penetasan telur.

“Mudah-mudahan panen ke-3 ini bisa panen raya (sukses). Karena kalau idealnya (dari peternak yang sudah sukses) 1 kg telur bisa hasilkan 25 sampai 30 kg jangkrik,” imbuhnya.

Rofiq menyebutkan, di Lapas Kelas IIA Magelang terdapat dua warga binaan yang sudah terampil budi daya jangkrik, yakni Arif dan Bayu Kirno. Namun untuk Arif, menurutnya, saat ini sudah bebas. Namun, sebelum keluar Arif sudah menularkan keterampilannya ke Bayu Kirno.

Rofiq menjelaskan, selain budi daya jangkrik, pihak Lapas Kelas 2A juga memproduksi peti mati yang sudah berjalan tiga tahun terakhir. Teknis pembuatannya, menurut Rofiq, pihak Lapas menyiapkan bahan baku, biasanya dari kayu sengon putih. Kemudian, diolah oleh warga binaannya sampai jadi peti mati lengkap dengan berbagai ornamen di dalamnya. Untuk harga per peti mati biasa dihargai Rp 950. 000.

“Sudah ada MoU (nota kesepahaman) dengan pihak gereja se Kota Magelang. Biasanya pesanan 1 kali antar kadang 4 kotak (peti). Kalau dengan Gereja Plengkung mereka rutin nyetok 4, jadi kami kirim. Kalau gereja lain, kalau ada yang meninggal baru pesan. Di sini (kota) lebih dari 10 gerejanya,” jelasnya.

Rofiq menambahkan, peti-peti mati itu dibuat di ruang kerja semacam bengkel untuk pertukangan. Ruangan ini, menurut Rofiq, selain untuk memproduksi peti mati, juga membuat berbagai kerajinan, mulai dari miniatur menara, mobil, helikopter sampai aneka lukisan, yang kesemuanya dibuat oleh warga binaan Lapas Kelas 2A Magelang.

Salah satu warga binaan, Bayu Kirno, mengaku bahwa dirinya dulu dibimbing oleh warga binaan lain dan petugas Lapas dalam beternak jangkrik.

“Saya dulu dilatih Mas Arif, dibimbing juga oleh Bapak Rofiq. Awalnya ya belum bisa, cuma dapat pengalaman dari sini. Nggak (susah) nggak terlalu banyak makan tenaga,” akunya.

Terpidana kasus penipuan ini menjelaskan, dari telur sampai menetas dibutuhkan waktu sekira 10 hari. Namun, menurutnya, penetasan tersebut variatif, tergantung tingkat kematangan telur ketika dibeli.

“Sementara saya sendirian (mengelola) mungkin nanti kalau saya sudah mendekati bebas mungkin teman-teman lain (bisa ditularkan ilmunya),” imbuhnya.

Bayu Kirno yang sudah menjalani hukuman satu tahun dari 2,5 masa tahanan di pemasyarakatan ini mengaku sangat terbantu dengan kegiatan pembinaan seperti itu.

“Sangat merasakan manfaatnya dengan seperti ini ada pembinaan seperti ini, insya Allah saya nanti diluar bisa mengembangkan. Saya dapat binaan sudah syukur alhamdulillah, karena mungkin tidak semua orang bisa seperti saya,” paparnya.

Kepala Lapas Kelas IIA Magelang, Bambang Irawan, menyebutkan bahwa aneka produksi keterampilan di lapas, merupakan bagian dari pembinaan. Meskipun dilihat dari hasil pendapatan belum begitu besar, menurut Bambang, keterampilan yang didapat di Lapas tetap akan bermanfaat kelak saat bebas.

“Jadi mereka bisa dapat penghasilan, kasih insentif dari bekerja. Minimal untuk menghidupi diri, tapi ada juga yang sudah bisa mengirim (uang) ke keluarganya. Minimal mereka punya keahlian lah. Yang dulunya mungkin unskilled, sekarang sudah bisa punya keterampilan-keterampilan yang bisa dibanggakan,” tegasnya.

Bambang juga menyebut, selain membina mereka agar mandiri, kesehatan dan kebugaran para warga binaan juga diperhatikan. Sebab kesehatan itu penting untuk mereka nantinya ketika kembali ke tengah masyarakat. Salah satu upaya merawat kesehatan dan kebugaran warga binaan,menurut Bambang, adanya pekan olahraga dan seni (Porsenap) yang baru saja diresmikan hari Sabtu ini. Kegiatan Porsenap, kata Bambang, juga dalam rangka menyambut dan memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia dan juga Hari Bhakti Pemasyarakatan.

“Jadi petugas dan warga binaan harus sehat. Ada pertandingan-pertandingan olahraga, seperti tenis lapangan, tenis meja, bulu tangkis dan catur,” jelasnya.

Sementara, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, yang berkesempatan berkunjung ke Lapas Kelas 2A Magelang, mengapresiasi pembinaan yang dilakukan oleh pihak lapas kepada warga binaan. Menurutnya, memperlakukan warga binaan harus manusiawi, ini tentu mengedukasi mereka agar menjadi baik.

“Karena mereka itu sakit intelektualnya, jadi harus disembuhkan. Salah satunya lewat pembinaan ini,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *