Napi LP Kedungpane Bersih-bersih Monumen Ketenangan Jiwa

Napi LP Kedungpane Bersih-bersih Monumen Ketenangan Jiwa

Napi LP Kedungpane Bersih-bersih Monumen Ketenangan Jiwa

Merdeka.com, Semarang – Sebanyak 10 warga binaan (napi) Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Kedungpane Semarang mengikuti kegiatan kerja bakti bersih-bersih Monumen Ketenangan Jiwa, Jumat (2/7). Para napi tersebut membersihkan kawasan monumen bersama petugas kebersihan Kota Semarang, mahasiswa, serta sejumlah anggota klub motor.

Monumen yang dalam Bahasa Jepang bernama Chinkon No Hi (鎮魂の碑: Monumen Rekuiem/Monumen Ketenangan Jiwa) itu berada di bibir muara aliran Sungai Banjir Kanal Barat (BKB) atau tepatnya di kawasan Pantai Baruna Semarang. Kerja bakti itu sendiri diinisiasi oleh Rumah Pancasila sebagai wujud kampanye perdamaian dunia.

“Pelibatan para napi pada kegiatan bersih-bersih Monumen Ketenangan Jiwa ini sebagai bentuk memasyarakatkan kembali para warga binaan. Pelibatan mereka ini juga sudah melalui prosedur dan izin dari Kemenkumham,” ujar Kabid Pembinaan Lapas 1 Kedungpane Semarang Ahmad Heryawan di sela kegiatan.

Dia menyebutkan, para napi yang dilibatkan pada kegiatan itu adalah mereka yang sudah menjalani lebih dari separuh masa tahanan. “Ya, semua napi yang kita libatkan adalah mereka yang sudah masa asimilasi atau menjalani lebih dari separuh masa tahanannya,” bebernya.

Pendiri Rumah Pancasila Theodorus Yosep Parera menjelaskan, kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk keprihatinan atas keberadaan monumen yang berkaitan dengan peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang itu. Keberadaan monumen tersebut dibuat sebagai peringatan atas meninggalnya 150-an serdadu dan masyarakat sipil Jepang pada peristiwa bersejarah tersebut.

“Kondisi kawasan monumen yang saat ini banyak ditumbuhi ilalang, banyak sampah di sekitar monumen ini yang membuat kami prihatin. Padahal, monumen ini, bukan hanya sebagai pengingat bagi masyarakat Jepang saja yang tewas pada Pertempuran Lima Hari. Tetapi, monumen ini sebagai simbol perdamaian. Tak ada lagi peperangan, dan yang ada perdamaian,” katanya.

Yosep berharap, kawasan monumen tersebut ke depannya mendapat perhatian dari Pemkot Semarang. Khususnya pada hal perawatan, pembuatan akses ke lokasi agar dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata sejarah. “Apalagi, di kawasan ini juga sering dikunjungi oleh warga dari Jepang tiap tahun untuk mengenang leluhur mereka yang meninggal di sini pada masa lalu,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Industri dan Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Syamsul Bahri yang turut hadir pada kegiatan itu berjanji akan mengupayakan penyediaan akses menuju lokasi monumen. “Kita akan cek dulu kepemilikan tanah di lokasi monumen ini. Tapi kalau dilihat dari posisi persis keberadaan monumen yang masih berada di garis sempadan sungai, ini berarti masih tanah pemerintah. Nanti kita koordinasikan dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana),” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *