Pemkot Berencana Bangun Akses Wisata di Monumen Ketenangan Jiwa

Pemkot Berencana Bangun Akses Wisata di Monumen Ketenangan Jiwa

Pemkot Berencana Bangun Akses Wisata di Monumen Ketenangan Jiwa

SEMARANG (jatengtoday.com) – Chinkon no Hi atau Monumen Ketenangan Jiwa di kawasan Pantai Baruna, Semarang, akan dikemas menjadi destinasi wisata. Pemkot Semarang berencana membangun akses wisata di monumen bersejarah peristiwa pertempuran lima hari di Semarang tersebut.

Terutama akses masuk ke monumen. Saat ini, jalan masuk sangat tidak layak dilalui kendaraan bemotor. Hanya roda dua yang bisa melintas. Itu pun harus hati-hati karena jalannya berupa batu dan tanah.

Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar menerangkan, pengembangan Monumen Ketenangan Jiwa menjadi destinasi wisata masih terkendala status lahan.

“Kami belum tahu, lahan ini milik siapa. Jika diketahui milik pemkot, pasti kami kembangkan. Kalau bukan, akan dikomunikasikan dengan pemilik lahan,” ucapnya di sela-sela acara bersih-bersih monumen bersama tim Rumah Pancasila, mahasiswa, puluhan napi dan petugas dari Lapas Kelas I Kedungpane Semarang, Jumat (2/8/2019).

Jika akses sudah dibangun, monumen yang berdiri 14 Oktober 1998 silam ini juga akan digunakan untuk peringatan pertempuran 5 hari di Semarang. Selama ini, peringatan pertempuran hanya dilakukan di Tugumuda.

“Monumen ini mengingatkan kembali sejarah pertempuran lima hari Semarang,” tandasnya.

Sementara itu, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang, Theodorus Yosep Parera mengaku, sebelumnya telah bersurat kepada Wali Kota Semarang, Hendar Prihadi. Intinya, meminta pemkot segera melakukan pemugaran monumen bersejarah itu.

“Kalau dikelola dengan baik, bisa jadi destinasi wisata, khususnya bagi orang Jepang,” katanya.

Karena itu, dia berinisiatif mengajak mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Semarang, pejabat, warga setempat, serta napi dan petugas Lapas kelas I Kedungpane Semarang untuk ikut ambil porsi dalam pemugaran monumen.

“Karena tidak semata-mata ini tanggung jawab pemerintah. Kita sebagai warga, juga punya kewajiban untuk merawat,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *