Peringati Pertempuran Lima Hari di Semarang, Warga Jepang Taburkan Bunga di Laut Samping Monumen Ketenangan Jiwa

Peringati Pertempuran Lima Hari di Semarang, Warga Jepang Taburkan Bunga di Laut Samping Monumen Ketenangan Jiwa

Peringati Pertempuran Lima Hari di Semarang, Warga Jepang Taburkan Bunga di Laut Samping Monumen Ketenangan Jiwa

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Sebanyak 10 orang warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1A Kedungpane Semarang dan Lapas Kelas IIA Wanita Semarang menggelar upacara peringatan pertempuran lima hari di Semarang di Monumen Ketenangan Jiwa, berlokasi di tepi Pantai Baruna, Semarang, Selasa (15/10) sore. Acara tersebut juga turut dihadiri oleh seorang laki-laki warga asal Jepang.

Acara yang diprakarsai Yosep Parera, selaku Pendiri Rumah Pancasila ini bermaksud untuk mengajak seluruh elemen bangsa baik aparatur penegak hukum, sipil negara maupun masyarakat termasuk mahasiswa dan warga binaan bersama-sama wajib mempraktikkan nilai-nilai serta filosofi Pancasila.

“Kita itu bertuhan, maka itu kita akan menjaga seluruh ciptaan Tuhan yang ada di muka bumi ini. Salah satunya dengan memanusiakan manusia,” ungkapnya usai kegiatan di Monumen Ketengan Jiwa kepada RADARSEMARANG.ID, Selasa (15/10) kemarin.

Lanjut Yosep Parera mengatakan, monumen ketenangan jiwa ini memiliki nilai sejarah tinggi. Tempat tersebut dulunya telah terjadi tragedi ratusan jiwa dari masyarakat Jepang gugur setelah terlibat perang dengan para pejuang Indonesia dalam pertempuran lima hari di Kota Semarang.

“Maka, Rumah Pancasila ingin mewujudkan praktik dengan menghormati kemanusiaan, mengheningkan cipta dan sekaligus mendoakan mereka yang telah gugur. Sehingga mengoreksi ke depan supaya tidak ada lagi korban nyawa sipil yang kita korbankan untuk mendapatkan kepentingan atau golongan tertentu dalam hal apapun,” katanya.

Yosep menambahkan, dengan adanya kegiatan ini nantinya bangsa manapun ketika meninggal di Indonesia dalam rangka kegiatan kemanusiaan akan didoakan. Menurutnya, hal ini sebagai penghormatan sesama manusia.

“Atas Rahmat Tuhan Yang Maha Esa sekaligus meminta ampun, atas kegiatan-kegiatan yang sudah mengakibatkan mereka meninggal dunia, untuk kemerdekaan,” katanya.

Pihaknya juga akan terus melakukan kegiatan tersebut dan akan menggali sejarah-sejarah Indonesia untuk disampaikan kepada publik yang nantinya bisa dipraktikan ke dalam nilai-nilai Pancasila.

Pada kesempatan sama, sejarawan Semarang, Jongki Tio yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan ratusan orang Jepang meninggal tersebut merupakan para pekerja di pabrik-pabrik. Kondisinya mereka telah terancam dan kemudian akan bergabung dengan tentara Jepang yang saat itu berada di Jatingaleh. Namun dalam perjalanan mereka bertemu dengan pemuda-pemuda pejuang Indonesia dan akhirnya berperang hingga tewas.

“Korbannya banyak. Ini salah satu yang mendirikan teman saya, dia orang Jepang dan datang ke Semarang membangun monumen peringatan ini,” katanya.

Sementara salah satu warga asal negara Jepang, Yokoyama mengakui sejak tahun 1998 sudah mengetahui adanya monumen tersebut. Pihaknya juga mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan warga Indonesia ini.

“Saya sangat senang, sangat berterimakasih. Ini sebagai peringatan supaya tidak terjadi lagi,” katanya.

Pada kegiatan tesebut juga dihadiri oleh anggota Polrestabes Semarang, dari TNI serta dari pihak Lapas Kedungpane dan Lapas Wanita Semarang, termasuk dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. Termasuk juga hadir para mahasiswa dan mahasiswi di perguruan tinggi di Kota Semarang. Usai mengheningkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengheningkan cipta, acara dilanjutkan dengan tabur bunga di tepi laut samping monumen ketenangan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat