Pengedar Obat Ilegal Praperadilan-kan BPOM

Pengedar Obat Ilegal Praperadilan-kan BPOM

Pengedar Obat Ilegal Praperadilan-kan BPOM

SEMARANG – Tersangka penjual ratusan ribu butir obat pelangsing tanpa izin edar, Aprilia Santoso, mengajukan praperadilan pada Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang. Pemohon menyoal penggeledahan dan penetapan tersangka yang tidak sesuai prosedur oleh BBPOM Semarang.

Kuasa hukum pemohon, Yosep Parera, di Semarang, Kamis (24/9) mengatakan, dugaan penggeledahan, penyitaan, dan penetapan tersangka terhadap kliennya bertentangan dengan KUHAP.

“Yang kami ajukan dalam gugatan ini masih dalam ranah praperadilan,” urai Yosep seperti dikutip dari Antara.

Kemudian dia menjelaskan, pada 16 September 2020, BBPOM Semarang melakukan penggeledahan di rumah tersangka, Jalan Kuala Mas, Kota Semarang.

BBPOM Semarang mengamankan 769.595 butir kapsul obat pelangsing tanpa izin edar.

Penggeledahan itu, kata dia, tidak disaksikan oleh ketua RT setempat atau minimal dua warga setempat. Namun, Ketua RT hanya menandatangani surat persetujuan penggeledahan, lanjut dia.

Petugas BBPOM, lanjut dia, juga menyita barang bukti dari rumah kliennya yang juga tidak diketahui langsung oleh saksi yang berasal dari warga setempat.

Saksi yang menyaksikan dan menandatangani berita acara penyitaan justru hanya petugas BBPOM dan kepolisian. “Nanti, kami akan buktikan hal ini di sidang praperadilan,” imbuh dia.

Berkaitan dengan status tersangka yang dikenakan kepada kliennya, Yosep sampaikan ada pelanggaran prosedur hukum. Menurut dia, Aprilia Santoso sudah ditetapkan tersangka sebelum surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) disampaikan ke kepolisian.

Yosep menyebutkan ketiga proses hukum yang dilakukan BBPOM terhadap kliennya tersebut salah karena bertentangan dengan KUHAP.

Ia menambahkan bahwa kliennya sendiri saat ini tidak ditahan oleh penyidik.

Sebelumnya, Kepala BBPOM Semarang I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengatakan, obat pelangsing tersebut diduga mengandung sibrutamine yang dilarang penggunaannya.

Lokasi penyimpanan ribuan butir kapsul pelangsing di Jalan Kuala Mas tersebut diketahui sebagai tempat pengepakan dan distribusi.

Dalam perkara tersebut, pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Sibutramine merupakan obat yang diindikasikan sebagai pengobatan adjuvan (tambahan) dalam membantu penurunan kelebihan berat badan di samping olahraga dan pengaturan diet.

Namun, sejak 2010, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pembatalan izin edar dan menarik obat-obat yang mengandung sibutramine.

BPOM menyatakan, penarikan obat jadi yang mengandung sibutramine dilakukan mulai 14 Oktober 2010.

Ini merupakan tindak lanjut dari informasi aspek keamanan produk obat yang diperoleh hasil studi “Sibutramine on Cardiovascular Outcomes Triaf” (SCOUT). Studi itu menunjukkan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular oleh sibrutamine.

Selain itu, sibutramine juga telah dilarang beberapa badan otoritas di negara lain. Lantaran, ada aspek keamanan penggunaan sibutramine jangka panjang dari hasil studi SCOUT yang menunjukkan adanya peningkatan risiko kejadian kardiovaskular pada pasien dengan riwayat penyakit kardiovaskular.

Sumber : validnews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *